Jasa lebah bagi semesta


Satu potensi besar lebah yang belum banyak tergali adalah kemampuannya dalam membantu penyerbukan bebungaan. Sebagai pengunjung bebungaan, lebah berpotensi menjadi agen polinasi bagi berbagai jenis tanaman berbunga. Lebah mengunjungi bunga untuk mengambil nektar dan serbuk sari sebagai makanan mereka. Bagi bunga, serbuk sari berfungsi sebagai pembawa gamet jantan. Putik adalah alat kelamin betina bagi bunga. Dalam proses mengumpulkan nektar dan serbuk sari inilah peluang terjadinya penyerbukan bunga. Serbuk sari seringkali menempel dalam tubuh lebah dan kemudian jatuh pada putik. Jatuhnya serbuk sari pada putik memungkinkan terjadinya pembuahan pada bakal biji di dalam bunga itu sendiri.

Lebah tanpa sengat, sebagai salah satu kelompok lebah tropis diperkirakan merupakan agen penyerbuk yang dominan di hutan tropis. Ukuran lebah tak bersengat yang kecil memungkinkan lebah mampu masuk ke bunga-bunga berukuran kecil. Meskipun berukuran kecil, namun lebah-lebah tersebut mampu menjangkau kanopi hutan, dan mengambil nektar dan serbuk sari di tajuk. Keberadaan lebah di kawasan hutan menjadi sangat vital bagi regenerasinya.

Dalam dunia pertanian, aplikasi polinator pada lahan pertanian menjadi hal yang lumrah di Negara-negara maju. Menyewa jasa penyediaan serangga penyerbuk menjadi investasi tersendiri. Saat tanaman komoditas pertanian berbunga, pemilik lahan akan mendatangkan lebah-lebah dari beekeeper atau penyedia jasa lebah pernyerbuk. Di Eropa, bumblebees atau Bombus spp. (Apidae: Bombini) dipelihara untuk menyerbukkan tanaman-tanaman budidaya, pemeliharaannya disebut bombikultur.

Aplikasi serangga polinator pada berbagai komoditas tanaman pertanian dan perkebunan terbukti bisa meningkatkan kuantitas maupun kualitas produksi. Fruit set umumnya lebih bagus, cacat biji berkurang, dll. Hasil riset yang telah teruji misalnya aplikasi lebah pada kebun kopi, aplikasi pada buah stroberi, dan aplikasi pada tanaman cabai.


Sepuluh alasan memelihara lebah


Menarik sekali mencermati salah satu dokumen FAO berjudul Bees and Their Role in Forest Livelihood (2009) yang ditulis Nicola Bradbear. Pemeliharaan lebah adalah salah satu aktivitas terbaik bagi masyarakat di sekitar hutan. Dengan membudidayakan lebah, masyarakat sekitar hutan mendapatkan manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung misalnya mendapat pemasukan finansial, setidaknya sebagai tambahan. Manfaat tidak langsungnya, hutan yang terus beregenerasi. Ada 10 alasan mengapa pembudidayaan lebah itu penting:

1. Pollinasi
Karena mengambil makanan pada bebungaan, lebah memiliki peran penting di alam yakni sebagai agen penyerbuk (polinasi). Bahkan ada ungkapan ekstrim bahwa ada jasa lebah sepertiga makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Klaim tersebut mungkin tidak akurat. Tapi bahwa lebah penting untuk penyerbukan, adalah klaim yang tidak berlebihan. Banyak pembuktian ilmiah, misalnya pada tanaman cabai, tanaman kopi, dan berbagai buah-buahan. Bagi hutan, lebah adalah jenis kunci, karena pernyerbukan berbagai tanaman hutan pun terbantu oleh mereka.

2. Madu
Bagaimanapun, pandangan masyarakat umum di seluruh dunia tentang lebah adalah sebagai penghasil madu. Madu adalah pemanis paling baik, sekaligus suplemen kesehatan yang disediakan oleh alam. Madu merupakan salah satu komoditas yang diperdagangkan sejak ribuan tahun dan selalu menjadi bagian dari peradaban dunia.

3. Beeswax dan produk lain: pollen, propolis, royal jelly
Selain madu, masih ada banyak produk perlebahan maupun turunannya. Produk yang biasa diperdagangkan antara lain lilin lebah (beeswax), beepollen, royal jelly, dan propolis. Lilin lebah dapat dijadikan berbagai produk turunan. Misalnya lilin bakar, sabun, lip balm dan aneka produk kecantikan. Industri batik juga membutuhkan lilin lebah untuk proses produksinya. 


4.Modal kecil
Besaran modal untuk memulai usaha perlebahan bisa ditekan sampai dalam kondisi sekecil mungkin. Orang-orang di sekitar hutan bisa mendapatkan lebah dari koloni liar, sebagai modal awal. Koloni-koloni induk ini kemudian bisa diperbanyak sendiri sesuai kebutuhan dan kemampuan. Peralatan untuk budidaya bisa memodifikasi sendiri (custom), karena tidak ada yang sangat baku dalam teknik pemeliharaan lebah. Bagi masyarakat sekitar hutan, makanan bagi lebah tersedia dalam jumlah melimpah, sehingga tentu saja tidak perlu biaya untuk pemberian pakan. 

5. Kepemilikan lahan tidak penting
Anda tidak perlu memiliki lahan berhektar-hektar untuk bisa memelihara lebah. Cukup lahan untuk menempatkan koloni, dan lebah-lebah akan mencari makan kemanapun sejauh daya jelajah mereka. Kalaupun tidak memiliki lahan sendiri untuk menempatkan stup lebah, ada banyak skema alternatif.

6. Tidak ada pesaing mendapat nectar dan pollen
Lebah adalah satu-satunya hewan ternak yang mengeksploitasi nektar dan pollen.

7. Menumbuhkan sektor usaha lain
Dengan menggeliatnya usaha budidaya lebah, berpotensi menumbuhkan usaha pendukung seperti penyedia stup dan alat budidaya, usaha produk turunan, wisata, dll.

8. Menumbuhkan kesadaran lingkungan / ecological awareness
Memelihara lebah menuntut pemeliharanya lebih peka dan lebih mengenal alam. Dengan budidaya lebah para peternak punya alasan finansial untuk menjaga lingkungan di sekitarnya. 


9. Semua orang bisa menjadi beekeeper  
Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi peternak lebah. Teknik budidaya lebah bukan teknik yang sangat rumit. Bagi mereka yang tidak tahan sengatan lebah, masih ada alternatif lebah tanpa sengat yang bahkan harga madunya lebih mahal.

10.Budidaya lebah ramah lingkungan
Peternakan lebah tidak menimbulkan dampak buruk bagi alam asal dilakukan dengan bijak. Beekeeping bahkan berpotensi meningkatkan kualitas lingkungan

Berbagi tugas ala lebah tanpa sengat


Lebah tanpa sengat, sama seperti lebah bersengat dan serangga sosial lainnya, memiliki pembagian tugas yang unik. Masing-masing kasta seperti telah dibahas di artikel sebelumnya, memiliki peran masing-masing. Tugas ratu menghasilkan keturunan dan memimpin satu koloni. Drone bertugas mengawini ratu perawan (virgin queen), sedangkan pekerja mengerjakan berbagai tugas dalam mendukung kehidupan satu koloni. Kali ini kita akan mencoba mengulas tugas-tugas lebah pekerja.

Lebah konstruksi
Lebah konstruksi membangun setiap bagian sarang. Sarang lebah bisa dianalogikan sebagai sebuah kota kecil. Berfungsi sebagai tempat tinggal dan berlindung satu koloni. Bahan baku sarang adalah getah atau resin tanaman. Bola-bola (atau lebih familiar dengan istilah pot) kecil berjumlah ribuan disusun dengan konfigurasi tertentu untuk meletakkan telur. Selain membuat pot-pot telur, lebah-lebah kontruksi juga membuat pot-pot penyimpan bahan makanan. Kantong-kantong cadangan makanan ini berbentuk bola-bola yang lebih besar dari pot telur. Tiap jenis lebah tanpa sengat memiliki cara sendiri dalam mengatur tata letak antara pot telur, pot madu, dan pot beepolen.

Lebah perawat
Regenerasi adalah kunci keberlanjutan hidup satu koloni. Lebah perawat bertugas untuk mengurus pengeraman telur hingga berubah menjadi larva, pupa, dan kemudian menetas menjadi lebah-lebah muda. Lebah-lebah muda masih perlu dirawat sebelum cukup kuat untuk mengurus diri sendiri. Lebah ratu juga membutuhkan perawatan khusus, begitu juga lebah-lebah jantan (drone).

Lebah pembersih
Lebah adalah makhluk yang sangat menjaga kebersihan sarang. Lebah-lebah pembersih membuang kotoran dari dalam sarang, termasuk lebah yang mati. Kotoran yang ada di dalam sarang berpotensi mendatangkan penyakit bagi koloni, terutama telur dan lebah-lebah muda.

                                                              Penjaga pintu sarang
Para penjaga sarang yang garang
Lebah-lebah penjaga mengamankan sarang dari penyusup yang akan masuk. Ancaman yang datang ke sarang lebah tanpa sengat antara lain parasit, maupun serangan dari koloni lain dalam rangka mencuri madu maupun menginvasi sarang. Beberapa lebah berjaga di pintu masuk dan akan memberikan perlawanan bagi pengganggu sarang. Dalam mempertahankan sarang, lebah tanpa sengat akan memberikan gigitan bagi musuhnya. Dalam kasus yang serius misalnya serangan koloni lain, pertempuran antar koloni bisa sangat mengerikan. Lebah dari dua koloni akan saling menggigit sampai keduanya mati. Pertempuran dua koloni terkadang membunuh sampai setengah dari jumlah lebah dari tiap koloni.

Pencari sumber makanan
Aktivitas di luar sarang dilakukan mulai dari pagi hari sampai menjelang petang, terdiri dari mencari dan mengumpulkan pakan, maupun material sarang. Lebah-lebah pekerja yang bertugas mencari sumber pakan dan material sarang (scout bees) akan mengeksplorasi lingkungan di sekitar sarang. Keberadaan sumber pakan dan material sarang akan diinformasikan ke koloni.

Lebah pengumpul makanan
Selanjutnya lebah pengumpul (collecting bees) akan bertugas memanen nektar (sari bunga) dan serbuk sari sebagai pakan, dan propolis sebagai material utama sarang. Nektar diambil dengan mulut dan masuk dalam suatu kantong di tubuh lebah yang biasa disebut crop. Sedangkan serbuk sari dan propolis yang dipanen kemudian dibawa pada bagian tibia kaki belakang lebah, yang biasa disebut pollen basket. Jika diamati lebih detail, pollen basket sebenarnya adalah suatu daerah di bagian tibia kaki belakang yang dilengkapi rambut-rambut halus yang bisa menahan serbuk sari maupun propolis tetap menempel.


                                                               Lebah pengumpul pakan
Nektar, serbuk sari, maupun material sarang yang dikumpulkan kemudian dibawa ke sarang. Nektar kemudian ditransfer ke dalam kantong madu. Ribuan lebah mengisi satu kantong madu sampai penuh. Setelah penuh kantong kemudian ditutup dengan rapat, dan kantong baru akan disiapkan untuk diisi kembali. Begitu seterusnya, lebah mengumpulkan madu sedikit demi sedikit sepanjang waktu. Begitupun dengan pollen yang kemudian disimpan dalam kantong pollen.

Sarang lebah tanpa sengat


Semua jenis lebah tanpa sengat (klanceng/kelulut) bersarang pada rongga, dengan satu pintu untuk keluar masuk. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, lebah tak bersengat membangun sarang (hive) dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun paparan penyakit.

Tiap jenis lebah tanpa sengat cenderung menunjukkan variasi pemilihan jenis media sarang. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Tetragonilla collina cenderung memilih tunggul-tunggul pohon yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup kosmopolit, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.


Secara umum, sarang lebah tanpa sengat merupakan satu ruangan tempat menempatkan telur-telur, kantong-kantong madu, dan kantong-kantong polen. Konstruksi sarang pada tiap jenis bervariasi, misalnya dilihat dari bentuk pintu masuk, material sarang yang digunakan, dan tata letak penempatan brood, kantong madu dan polen. Pintu masuk sarang lebah tanpa sengat berbentuk satu lubang dengan terowongan masuk menuju ruang utama (chamber). Hanya ada satu lubang masuk ke sarang, lebah-lebah itu biasanya akan menutup lubang lain selain pintu masuk. Mereka akan menutupnya menggunakan resin.

Bagian pintu sarang sering dilengkapi dengan ornamen menyerupai pipa, corong atau terompet. Bentuk ornamen ini pada banyak kasus dapat menjadi petunjuk identifikasi jenis lebah. Pintu ini terkoneksi dengan terowongan masuk ke bagian dalam sarang. Terowongan ini kemudian terhubung dengan suatu jaringan yang menyerupai labirin sebagai perlindungan dari penyusup. Labirin ini terhubung dengan ruang utama dimana segala aktivitas sarang berlangsung. Di ruang utama inilah lebah konstruksi membangun pot-pot telur yang akan diisi dengan telur oleh ratu, serta membangun kantong-kantong untuk penyimpanan madu maupun serbuk sari.



Material utama dalam membangun sarang adalah getah (resin) tanaman dan lilin lebah. Lebah-lebah pengumpul akan mengambil getah tanaman dan diangkut di tungkai belakangnya. Getah tanaman ini bersifat lengket dan digunakan untuk struktur sarang dan membangun kantong-kantong telur dan cadangan makanan. Pada beberapa bagian, getah tanaman ini dicampur dengan material padatan lain seperti pasir atau tanah liat untuk memperkuat struktur.

Kasta lebah Trigona


Lebah Trigona atau biasa dikenal dengan lebah tanpa sengat memiliki cara hidup eusosial, sama seperti lebah Apis dan beberapa serangga lain seperti semut, dan rayap. Eusosial adalah perilaku hidup bersama, dengan mekanisme pembagian kerja. Selanjutnya satu kesatuan serangga yang hidup bersama tersebut disebut sebagai koloni. Dalam satu koloni lebah terdiri dari satu ratu lebah (queen), ratusan lebah jantan (drone), dan ratusan sampai ribuan lebah pekerja. Pembagian kelompok dalam koloni inilah yang disebut sebagai kasta lebah.


Ratu lebah merupakan lebah berkelamin betina yang fertile. Ratu lebah mudah dibedakan dari lebah-lebah lainnya dari morfologinya. Ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari lebah lainnya, terutama di bagian abdomen (perut). Di dalam perutnya itu tersimpan telur-telur yang akan menjadi penerus koloninya. Selama hidupnya, tugas utama ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan. Ratu memiliki wewenang untuk menentukan satu telur akan menjadi ratu baru, atau jantan, atau lebah pekerja. Ratu lebah ini menghabiskan sebagian besar waktunya di antara kantong-kantong telur.


Lebah jantan dihasilkan dari telur yang tidak dibuahi. Jumlah lebah jantan pada tiap koloni bervariasi, dan berfluktuasi. Satu-satunya tugas lebah jantan adalah mengawini ratu. Ratu perawan hanya akan kawin satu kali sepanjang hidupnya, namun bisa kawin dengan beberapa lebah jantan. Lebah jantan akan mati setelah kawin.

Lebah pekerja merupakan lebah berkelamin betina steril (tidak menghasilkan keturunan). Lebah pekerja memiliki beberapa tugas,antara lain membangun dan merawat sarang, menjaga keamanan sarang dari penyusup, merawat brood dan lebah-lebah muda, dan mengumpulkan pakan.