Budidaya lebah lokal

Konsumsi madu perkapita di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Konon, jika dihitung rata-rata, orang Indonesia hanya mengkonsumsi madu tak lebih dari 3 sendok per tahun. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh jenis lebah hutan Apis dorsata, dan lebah madu unggul A mellifera. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta

Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon besar. Menghasilkan madu dalam kuantitas yang besar, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Umumnya pemanfaatan hasil madunya hanya bersifat subsisten. Produksi madu yang dihasilkan jenis ini tidak terlalu melimpah namun akhir-akhir ini mulai banyak diburu.  

Selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan madu. Lebah-lebah tersebut menghuni hutan dan kawasan perkebunan yang kaya akan sumber makanan, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak bersengat. Lebah tak bersengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tak bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. 

Dengan potensi jenis-jenis lebah lokal atau jenis asli Indonesia yang sedemikian besar, sebenarnya ada peluang untuk dikembangkan sebagai lebah penghasil madu. Lebah Apis cerana misalnya, dipercaya lebih tahan terhadap penyakit. Lebah ini cocok dipelihara di pedesaan dan kawasan hutan dengan sumber pakan yang melimpah dan kondisi lingkungan yang baik. Lebah-lebah tak bersengat (Trigona), meskipun kuantitas produksi madunya tidak sebanyak lebah madu unggul, namun nilai ekonominya cenderung lebih tinggi. Pemeliharaanya cenderung lebih mudah, dan jenis-jenis yang bisa dikembangkan untuk dibudidaya juga lebih banyak.