Lebah tak bersengat


Lebah tak bersengat (Meliponini) tersebar di kawasan tropis sampai lintang yang sedikit lebih tinggi. Amerika selatan menyumbangkan sebanyak 300 jenis, Afrika sebanyak 50 jenis. Asia 60 jenis dan Australia 10 jenis. Indonesia sendiri memiliki setidaknya 35 jenis lebah tak bersengat, terbagi dalam beberapa marga antara lain: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Tetragonula, dll. Tidak semua jenis lebah tak bersengat layak untuk dipelihara, terutama jika diharapkan produk lebahnya. Saat ini jenis-jenis yang telah banyak dipelihara oleh para pemelihara lebah antara lain: Heterotrigona itama, H. thoracica, Tetragonula biroi, T. fuscobalteata, dan T. laeviceps.

Taksonomi:
Kingdom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.

Lebah tak bersengat memiliki cara hidup eusosial, sama seperti lebah Apis dan beberapa serangga lain seperti semut, dan rayap. Eusosial adalah perilaku hidup bersama, dengan pembagian kerja. Dalam sistem sosial lebah ada satu (atau terkadang lebih dari satu) ratu lebah, ratusan lebah jantan (drone), dan ratusan sampai ribuan lebah pekerja. Ratu berkelamin betina dan fertil. Tugas ratu adalah bertelur dan memimpin koloni. Satu-satunya tugas lebah jantan adalah mengawini ratu. Lebah pekerja merupakan lebah berkelamin betina steril (tidak menghasilkan keturunan). Lebah pekerja memiliki beberapa tugas, baik dalam membangun dan merawat sarang, menjaga keamanan, dan mengumpulkan pakan.
 


Semua jenis lebah tak bersengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, lebah tak bersengat membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan variasi pemilihan jenis media sarang. Secara umum, sarang lebah tak bersengat merupakan satu ruangan tempat menempatkan telur-telur, kantong-kantong madu, dan kantong-kantong polen. Material utama dalam membangun sarang adalah resin tanaman dan lilin lebah. Lebah-lebah pengumpul akan mengambil getah tanaman dan diangkut di tungkai belakangnya. Getah tanaman ini bersifat lengket dan digunakan untuk struktur sarang dan membangun kantong-kantong telur dan cadangan makanan. Pada beberapa bagian, getah tanaman ini dicampur dengan material padatan lain seperti pasir atau tanah liat untuk memperkuat struktur. 

Di dalam sarang, lebah-lebah membangun sebuah kota kecil – jika boleh dianalogikan seperti itu – yang mendukung kehidupan koloni. Lebah konstruksi membangun setiap bagian sarang, mulai dari pintu masuk, sampai bagian dalam sarang. Lebah-lebah tersebut senantiasa menjaga agar sarang tidak mengalami kebocoran dengan menutup setiap lubang selain pintu masuk sarang. Bola-bola kecil berjumlah ribuan disusun dengan konfigurasi tertentu untuk meletakkan telur. Bola-bola kecil yang masih terbuka akan diisi bahan makanan bagi calon larva. Setelah telur diletakkan, kantong telur kemudian ditutup dengan sempurna. Berbeda dengan lebah Apis yang memberi makanan pada larva setelah telur-telur menetas, lebah tak bersengat telah mempersiapkan makanan di awal, sebelum telur diletakkan. Larva yang baru menetas akan memanfaatkan ‘bekal makanan’ yang telah dipersiapkan untuk pertumbuhannya sampai kemudian menjadi pupa.

Aktivitas di luar sarang dilakukan mulai dari pagi hari sampai menjelang petang, terdiri dari mencari dan mengumpulkan pakan, maupun material sarang. Lebah-lebah pekerja yang bertugas mencari sumber pakan dan material sarang (scout bees) akan mengeksplorasi lingkungan di sekitar sarang. Keberadaan sumber pakan dan material sarang akan diinformasikan ke koloni. Selanjutnya lebah pengumpul (collecting bees) akan bertugas memanen nektar (sari bunga) dan serbuk sari sebagai pakan, dan propolis sebagai material utama sarang. Nektar diambil dengan mulut dan masuk dalam suatu kantong di tubuh lebah yang biasa disebut crop. Sedangkan serbuk sari dan propolis yang dipanen kemudian dibawa pada bagian tibia kaki belakang lebah, yang biasa disebut pollen basket. Jika diamati lebih detail, pollen basket sebenarnya adalah suatu daerah di bagian tibia kaki belakang yang dilengkapi rambut-rambut halus yang bisa menahan serbuk sari maupun propolis tetap menempel. 

Dalam proses mengumpulkan nektar dan serbuk sari inilah peluang terjadinya penyerbukan bunga. Serbuk sari seringkali menempel dalam tubuh lebah dan kemudian jatuh pada putik. Jatuhnya serbuk sari pada putik memungkinkan terjadinya pembuahan pada bakal biji di dalam bunga itu sendiri. Di kawasan tropis, lebah tak bersengat diperkirakan merupan agen penyerbuk yang dominan. Ukuran lebah tak bersengat yang kecil memungkinkan lebah mampu masuk ke bunga-bunga berukuran kecil. Meskipun berukuran kecil, namun lebah-lebah tersebut mampu menjangkau kanopi hutan, dan mengambil nektar dan serbuk sari di tajuk.