Meliponikultur sebagai praktik biofilia di perkotaan


Bisakah memelihara lebah di kota? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas bagi masyarakat urban yang ingin memiliki pengalaman dekat dengan alam melalui aktivitas memelihara lebah. Selama ini, memelihara lebah cenderung identik dengan masyarakat perdesaan atau bahkan mereka yang tinggal dekat dengan hutan.

Memelihara lebah dalam konteks budidaya produktif memang ideal dilakukan di sekitar hutan atau perdesaan yang kaya jenis-jenis pohon berbunga sebagai pakan lebah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa memelihara lebah di perkotaan. Masyarakat kota tetap bisa melakukannya, setidaknya dalam bentuk yang tidak persis sama.

Memelihara lebah tidak selalu berbicara tentang memanen madu untuk dijual sebagai sumber pendapatan. Bagi masyarakat perkotaan, kita bisa “memanen” manfaat lain yang tidak kalah menarik. Meskipun begitu, tidak serta merta kita langsung bisa mengintroduksi lebah di lingkungan kota. Kita perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan terlebih dahulu.

Kendala yang mungkin kita temui di perkotaan adalah minimnya sumber pakan bagi lebah, mengingat keterbatasan jumlah pohon dan tanaman berbunga. Memelihara lebah perlu sejalan dengan upaya peningkatan kualitas lingkungan. Dengan demikian, aktivitas ini justru berpotensi menumbuhkan keinginan untuk meningkatkan kualitas, misalnya dengan menghijaukan taman dan area-area kosong, atau memulai urban farming di lahan sempit. 

Peluang itu bernama meliponikultur

Di Indonesia sebagai kawasan tropis yang kaya keanekaragaman hayati, kita punya satu kelompok lebah yang unik: lebah tanpa sengat. Kelompok lebah ini bisa dipelihara, meskipun tidak menghasilkan madu sebanyak lebah sengat. Lebah tanpa sengat merupakan lebah berukuran kecil dalam suku Apidae. Mereka dikenal dengan berbagai nama lokal seperti klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), kelulut (Melayu), gala-gala (Minang), dan berbagai nama lokal lain. 

Pemeliharaan lebah tanpa sengat biasa disebut meliponikultur. Istilah ini diadopsi dari nama kelompok lebah tanpa sengat dalam tribus Meliponini. Meliponikultur relatif cocok dilakukan di perkotaan karena aktivitas ini bisa dilakukan siapa saja tanpa khawatir tersengat. Yang perlu menjadi catatan: tidak semua jenis lebah tanpa sengat cocok dipelihara di perkotaan.Kita perlu selektif. Jenis yang adaptif dan toleran dengan lingkungan kota misalnya Tetragonula laeviceps.

Biofilia dalam meliponikultur

Hasil madu mungkin tidak banyak karena keterbatasan lahan dan sumber pakan bagi lebah. Bisa memanen madu untuk konsumsi sendiri saja sudah sangat bagus. Meski hasil madu bukan tujuan utama, meliponikultur menawarkan manfaat lain yang justru sangat relevan bagi kehidupan urban modern. Manfaat tersebut dapat dipahami melalui konsep biofilia.

Biofilia adalah gagasan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk terhubung dengan makhluk hidup dan lingkungan alami. Konsep ini populer melalui pemikiran Edward O. Wilson. Kota modern sering minim interaksi dengan ekosistem alami. Meliponikultur bisa menghadirkan unsur alam hidup secara langsung di rumah, balkon, rooftop, atau kebun komunitas. Kehadiran lebah, tanaman berbunga, dan aktivitas penyerbukan menciptakan pengalaman biologis yang memperkuat koneksi manusia dengan alam.

Biofilia adalah tentang membangun relasi dengan organisme lain. Dalam meliponikultur, warga kota bisa mengamati perilaku lebah, mempelajari siklus alam, merawat habitat kecil, dan menyadari keterkaitan antara elemen penyusun alam. Interaksi rutin ini dapat meningkatkan empati ekologis dan kesadaran lingkungan. 

Dengan pendekatan biofilik, meliponikultur berpotensi dalam penurunan stres, peningkatan fokus, rasa tenang, dan kesejahteraan mental. Merawat lebah tanpa sengat memberi pengalaman kontak harian dengan proses alami dalam skala kecil tetapi bermakna. Aktivitas ini membawa efek terapeutik, sama seperti saat berkebun atau merawat tanaman dalam pot.

Biofilia juga berkaitan dengan rasa menjadi bagian dari sistem kehidupan. Melalui meliponikultur, masyarakat kota dapat melihat secara langsung bahwa produksi pangan, penyerbukan, dan kesehatan ekosistem saling terhubung. Pengalaman ini sering memunculkan perilaku yang lebih berkelanjutan. Dalam konteks kota yang semakin padat dan terputus dari alam, meliponikultur bukan sekadar aktivitas memelihara lebah, tetapi juga cara membangun kembali hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya.


Previous
Next Post »